“Touch This Earth Lightly”: Refleksi Arsitek Peraih Nobel tentang Masa Depan ASEAN

“Touch This Earth Lightly”: Refleksi Arsitek Peraih Nobel tentang Masa Depan ASEAN


Rileks.id: Di tengah laju pembangunan Asia Tenggara yang semakin cepat dan masif, muncul satu pertanyaan yang tak bisa lagi dihindari: apakah pertumbuhan selalu harus dibayar dengan kerusakan lingkungan?


Ketika gedung-gedung baru tumbuh di kota pesisir, kawasan industri, hingga pusat urban baru, arsitektur ditantang untuk menjawab dilema besar antara ambisi ekonomi dan keberlanjutan.

Jawaban atas kegelisahan ini justru datang dari sebuah gagasan yang terdengar sederhana, namun sarat makna: “Touch this earth lightly” atau sentuhlah bumi ini dengan lembut.


Filosofi tersebut diperkenalkan oleh Glenn Murcutt, arsitek asal Australia peraih Pritzker Architecture Prize, yang sepanjang kariernya dikenal konsisten menolak pendekatan arsitektur yang eksploitatif terhadap alam.


Bagi Murcutt, bangunan tidak seharusnya menjadi simbol dominasi manusia atas lingkungan. Sebaliknya, arsitektur ideal adalah yang mampu beradaptasi dengan iklim, lanskap, dan budaya lokal, sekaligus meminimalkan jejak ekologisnya. Gagasan ini kini kembali relevan, bahkan mendesak, bagi negara-negara ASEAN.


ASEAN di Persimpangan Pembangunan


Asia Tenggara merupakan salah satu kawasan dengan tingkat urbanisasi tercepat di dunia. Proyeksi menunjukkan ratusan juta penduduk akan bermukim di wilayah perkotaan pada dekade ini.

Namun, kawasan yang sama juga berada di garis depan krisis iklim global yakni kenaikan permukaan laut mengancam kota pesisir, gelombang panas ekstrem membebani infrastruktur, dan bencana alam semakin sering terjadi.


Realitas ini memaksa dunia arsitektur dan konstruksi untuk meninggalkan pola lama yang mengandalkan siklus bangun–rusak–bangun ulang. Ke depan, desain dan material bangunan dituntut untuk lebih adaptif, efisien, serta berkelanjutan. Di sinilah dialog antara filosofi, teknologi, dan konteks lokal menjadi krusial.


Menerjemahkan “Sentuhan Lembut” ke Konteks Asia Tenggara


Pemikiran Murcutt menjadi salah satu topik utama dalam simposium arsitektur ASEAN yang digelar di Jakarta pada akhir November lalu. Dalam forum tersebut, Ar. Nick Sissons dari Glenn Murcutt Architecture Foundation Australia memaparkan bagaimana prinsip “touch this earth lightly” dapat diterjemahkan secara praktis di kawasan Asia Tenggara yang kaya akan keragaman iklim dan budaya.


Simposium bertajuk Shaping Resilient Futures: Heritage and Modernity in Steel Architectural Design ini mempertemukan sekitar 190 arsitek dan praktisi dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Australia. Fokus diskusi tidak hanya pada estetika, tetapi pada bagaimana arsitektur dapat menjembatani warisan lokal dengan kebutuhan modern.


Ar. Budi Pradono dari Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) menyoroti pentingnya kerja sama lintas negara dalam merumuskan arah arsitektur kawasan. Menurutnya, kolaborasi regional menjadi kunci untuk melahirkan pendekatan desain yang lebih berani sekaligus berdampak nyata bagi masyarakat.


Teknologi Material dan Tantangan Masa Depan

Selain filosofi desain, simposium tersebut juga menyoroti peran teknologi material dalam membentuk arsitektur yang tangguh. Ar. Steve Woodland dari COX Architecture Australia menekankan bahwa tantangan masa depan, mulai dari perubahan iklim hingga kebutuhan urban yang kompleks, menuntut solusi material yang lebih cerdas.


Dalam konteks ini, baja mulai diposisikan ulang. Tidak lagi semata-mata sebagai simbol modernitas industrial, baja dipandang sebagai alat untuk mencapai tujuan keberlanjutan. Pendekatan ini menekankan bahwa material hanyalah medium, bukan tujuan akhir.


Jenny Margiano, Country President PT NS BlueScope Indonesia, menjelaskan bahwa baja modern memiliki sejumlah keunggulan yang relevan dengan kebutuhan ASEAN. Material ini dapat didaur ulang sepenuhnya, fleksibel dalam desain, serta mampu bertahan dalam kondisi iklim ekstrem—karakteristik yang semakin penting di kawasan rawan bencana.


Kemampuan baja untuk masuk ke dalam ekosistem ekonomi sirkular juga membuka peluang baru. Fleksibilitas strukturalnya memungkinkan arsitek merancang bangunan yang responsif terhadap kondisi lokal, seperti optimalisasi ventilasi alami di iklim tropis atau ketahanan terhadap gempa di wilayah rawan seismik.


Merancang Masa Depan yang Lebih Tangguh


Diskusi dalam simposium tersebut sekaligus menandai peluncuran Steel Architectural Awards ASEAN 2026, sebuah ajang yang dirancang untuk mendorong inovasi arsitektur di kawasan. Kompetisi ini terbuka bagi berbagai kategori bangunan mulai dari hunian hingga infrastruktur publik dengan penekanan pada konteks lokal dan keberlanjutan jangka panjang.


Menurut Jenny, penghargaan ini tidak sekadar merayakan pencapaian desain, tetapi juga memperkuat jejaring kolaborasi antara komunitas arsitektur ASEAN dan Australia. Penilaian akan berfokus pada sejauh mana sebuah karya mampu menjawab tantangan lingkungan, sosial, dan budaya secara holistik.


Dewan juri yang terdiri dari arsitek dan akademisi terkemuka di kawasan akan menilai karya berdasarkan visi “resilient futures” masa depan yang tidak hanya tangguh secara struktural, tetapi juga bertanggung jawab secara ekologis dan sosial.


Pada akhirnya, filosofi “touch this earth lightly” menawarkan lebih dari sekadar pendekatan desain. Ia menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak harus bersifat agresif untuk disebut maju. Di tengah dinamika ASEAN yang terus bergerak, arsitektur berkelanjutan justru mungkin lahir dari keberanian untuk melangkah lebih pelan, lebih bijak, dan lebih selaras dengan alam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *