Rileks.id – Keberhasilan Kanada menembus Piala Dunia 2022 Qatar bukan sekadar kisah tentang strategi dan hasil di papan skor. Di balik pencapaian bersejarah itu, ada fondasi kuat yang dibangun pelatih John Herdman. Fondasi tersebut berakar pada karakter, budaya, dan pembinaan jangka panjang.
Hal itu diungkapkan Jason deVos, mantan pemain timnas Kanada yang pernah bekerja langsung sebagai asisten Herdman di Toronto FC. Menurut DeVos, Herdman memiliki pandangan yang konsisten bahwa jalan menuju level elite sepak bola dimulai dari akar rumput.
“John selalu menekankan prinsip pengembangan pemain jangka panjang. Latihan dan format permainan disesuaikan dengan usia serta tahap perkembangan pemain. Dari sanalah jalur menuju level tertinggi dimulai,” ujar DeVos seperti dikutip dari Canada Soccer, Senin (5/1/2026).
Pendekatan tersebut kini menjadi sorotan di Indonesia. PSSI resmi menunjuk John Herdman sebagai pelatih baru timnas Indonesia senior pada Sabtu (3/1). Pria berusia 50 tahun itu datang bukan hanya membawa reputasi, tetapi juga filosofi kepelatihan yang menempatkan budaya tim sebagai fondasi utama.
Rekam jejak Herdman di Kanada, baik di tim putra maupun putri, menunjukkan perubahan besar yang tidak selalu dimulai dari papan taktik. Ia lebih dulu membenahi mental, mengikis ego, dan membangun dinamika ruang ganti yang sehat. Hasilnya, Kanada tumbuh menjadi tim dengan kohesi kuat, rasa saling percaya, serta identitas kolektif yang jelas.
Konsep yang sering ia gaungkan adalah brotherhood atau persaudaraan. Nilai tersebut tercermin dalam kedisiplinan emosional dan tanggung jawab antarpemain. Junior Hoilett, anggota skuad Kanada di Piala Dunia 2022, menggambarkan kultur itu sebagai ruang tanpa agenda pribadi.
“Apa yang dibangun John Herdman di sini adalah budaya persaudaraan yang nyata. Semua orang berada di jalur yang sama dan tahu alasan mereka berada di tim nasional,” tutur Hoilett.
Dampak kepemimpinan Herdman bahkan melampaui lapangan. Rhian Wilkinson, mantan pemain timnas putri Kanada, mengaku pengaruh Herdman terasa hingga ke ranah personal.
“Ia memengaruhi kami dalam cara yang sangat besar, dan hanya sebagian kecil yang berkaitan langsung dengan sepak bola. Ia mungkin telah mengubah saya sebagai pribadi,” ujar Wilkinson.
Bagi Diana Matheson, kesuksesan di bawah Herdman juga tidak semata diukur dari kemenangan. Proses dan nilai yang dijalani bersama menjadi bagian penting dari tujuan.
“Bukan hanya hasil akhir yang penting, tetapi bagaimana kita mencapainya. Dengan siapa kita bermain dan nilai apa yang kita bawa sebagai orang Kanada,” ucap Matheson.
Herdman sendiri meyakini bahwa prestasi lahir dari kultur dan sistem yang kokoh. “Kami membangun semuanya dari nol, mulai dari sistem performa tinggi, pengembangan talenta, hingga menghadirkan orang-orang yang tepat,” katanya.
Kini, filosofi tersebut menunggu pembuktian di Indonesia. Apakah pendekatan persaudaraan dan pembinaan jangka panjang ala John Herdman mampu menanamkan fondasi baru bagi tim Garuda, waktu yang akan menjawabnya.