Rileks.id – Dunia perfilman Indonesia kembali diramaikan dengan kehadiran film horor terbaru yang mengangkat lokasi legendaris penuh misteri di tanah Jawa. Kali ini, rumah produksi Unlimited Production menghadirkan sebuah film Alas Roban, yang siap membuat penonton merinding sejak menit pertama.
Mengusung latar hutan angker di Jawa Tengah, film ini terinspirasi dari kisah nyata serta legenda urban yang sudah lama beredar di kalangan masyarakat, terutama para sopir jalur Pantura.
Bagi kamu yang sering melintasi jalur utara Pulau Jawa, nama Alas Roban tentu bukan hal asing. Tanjakan curam yang diselimuti hutan lebat ini kerap disebut sebagai salah satu titik paling menyeramkan di Jawa Tengah.
Minim penerangan, sering berkabut, serta cerita-cerita mistis yang turun-temurun membuat kawasan ini seolah punya daya magis tersendiri. Tidak heran jika tempat ini menjadi sumber inspirasi banyak kisah horor, termasuk film terbaru ini.
Film Alas Roban tidak hanya menjual nama lokasi, tetapi juga menghadirkan cerita emosional tentang hubungan ibu dan anak yang dibalut teror gaib. Film berdurasi sekitar 1 jam 51 menit ini digarap dengan serius, mulai dari pemilihan pemain hingga penggarapan visual yang menjanjikan atmosfer mencekam.
Film ini ingin membawa penonton merasakan langsung suasana dingin, gelap, dan penuh ketidakpastian di hutan Alas Roban.
Sinopsis Film Alas Roban
Cerita film ini berfokus pada sosok Sita, seorang ibu tunggal asal Pekalongan yang harus berjuang demi masa depan anaknya. Demi mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, ia memutuskan pindah ke Semarang dan bekerja di sebuah rumah sakit.
Perjalanan tersebut ia tempuh bersama putrinya, Gendis, yang memiliki keterbatasan penglihatan. Mereka memilih bus terakhir yang melintasi jalur Alas Roban, tanpa menyangka bahwa keputusan itu akan mengubah hidup mereka.
Awalnya, perjalanan tampak biasa saja. Namun, semuanya berubah ketika bus yang mereka tumpangi tiba-tiba mogok di tengah hutan. Malam semakin larut, kabut mulai turun, dan suasana hening berubah menjadi mencekam.
Setelah kejadian itu, Gendis mulai menunjukkan perubahan perilaku yang tidak wajar. Ia kerap mendengar bisikan asing, menggambar simbol-simbol aneh, hingga mengalami kesurupan hampir setiap malam.
Teror demi teror membuat Sita panik. Sebagai seorang ibu, ia tidak rela melihat anak semata wayangnya tersiksa oleh kekuatan yang tak kasatmata. Dalam kondisi terdesak, Sita meminta bantuan sepupunya, Tika, serta Anto, seorang sopir ambulans yang dikenal paham dengan berbagai mitos di wilayah tersebut. Dari merekalah, Sita mulai mengetahui bahwa gangguan yang dialami Gendis bukanlah hal biasa.
Terungkap bahwa Gendis menjadi sasaran sosok gaib bernama Dewi Raras. Makhluk ini digambarkan sebagai entitas penuh amarah yang bangkit akibat adanya janji ritual kuno yang dilanggar atau terlupakan. Kekuatan Dewi Raras perlahan mencoba merebut raga Gendis, menjadikan anak itu sebagai wadah untuk melampiaskan dendamnya.
Satu-satunya cara untuk menghentikan semua ini adalah dengan kembali ke pusat Alas Roban. Dengan didampingi seorang penjaga spiritual bernama Bu Emah, Sita harus berpacu dengan waktu.
Ritual terakhir harus dilakukan sebelum malam keramat tiba, atau jiwa Gendis akan selamanya terperangkap dalam cengkeraman Dewi Raras. Adegan demi adegan di bagian ini disebut-sebut menjadi puncak ketegangan film Alas Roban.
Tak hanya kuat dari segi cerita, film ini juga digarap oleh nama-nama yang sudah tak asing di dunia horor Indonesia. Naskah ditulis oleh Evelyn Afnilia, sementara kursi sutradara diisi oleh Hadrah Daeng Ratu, sosok yang dikenal piawai menghadirkan atmosfer menyeramkan dalam karya-karyanya.
Film Alas Roban dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 15 Januari 2026. Bagi pecinta film horor lokal, ini bisa menjadi tontonan wajib di awal tahun.
Dengan kombinasi cerita legenda urban, drama keluarga, serta sentuhan mistis khas Jawa, film Alas Roban digadang-gadang akan menjadi salah satu film horor Indonesia yang paling dibicarakan tahun ini.
Daftar Pemain film Alas Roban
- Michelle Ziudith berperan sebagai Sita
- Fara Shakila sebagai Gendis
- Rio Dewanto sebagai Anto
- Taskya Namya sebagai Tika
- Imelda Therinne sebagai Dewi Raras
- Dewi Pakis sebagai Bu Emah
- Whani Darmawan sebagai Mbah Sakti
- Pritt Timothy sebagai Mbah Rejo
- Saputra Kori sebagai Petugas Forensik
- Rukman Rosadi sebagai Yusman
- Agus Kuncoro sebagai Dadang
- Ruth Marini sebagai Dukun