Rileks.id – Keberanian aktris Aurelie Moeremans mengungkap kisah masa lalunya lewat memoar Broken Strings ternyata memberi dampak besar, bukan hanya bagi publik, tapi juga bagi sesama figur publik. Salah satu yang paling tersentuh adalah Jessica Iskandar.
Artis yang akrab disapa Jedar ini mengaku kagum sekaligus tergerak setelah membaca dan mendengar cerita Aurelie sebagai penyintas child grooming.
Bagi Jedar, langkah Aurelie bukan perkara mudah. Membuka luka lama, apalagi yang berkaitan dengan trauma masa kecil, membutuhkan mental yang kuat. Ia menilai keberanian Aurelie patut diapresiasi karena bisa menjadi suara bagi banyak korban yang selama ini memilih diam.
Tanpa banyak orang tahu, keberanian Aurelie justru membuka pintu bagi Jedar untuk jujur pada dirinya sendiri. Dalam sebuah kesempatan, ibu tiga anak ini akhirnya mengungkap pengalaman pahit yang selama puluhan tahun ia simpan rapat-rapat. Jedar mengaku pernah mengalami pelecehan seksual saat masih duduk di bangku taman kanak-kanak.
Pengalaman itu, kata Jedar, menjadi luka batin yang lama terpendam. Ia memilih diam karena takut, bingung, dan belum tahu bagaimana harus menceritakannya. Baru setelah melihat Aurelie berani bersuara, Jedar merasa mendapatkan dorongan untuk akhirnya berbagi kisahnya sendiri.
“Aku sendiri pribadi, aku pernah mengalami kayak apa ya, tindak seksual kayak gitu sih waktu aku TK. Tapi aku nggak seberani Aurelie untuk cerita kan. Aku baru cerita di Pagi Pagi Ambyar. Mungkin itu juga karena dorongan. Oh iya, mungkin dengan cerita kita bisa melepaskan gitu,” beber Jessica Iskandar di Jakarta.
Menurut Jedar, berbicara tentang trauma bukan berarti membuka aib, melainkan bagian dari proses penyembuhan. Ia merasakan sendiri bahwa menceritakan pengalaman kelam itu membuat beban emosional yang selama ini ia tanggung terasa sedikit lebih ringan.
Jessica Iskandar Dukung Aurelie
Sudah berani membagikan kisahnya, Jedar menyebut lewat berceraita traumanya di masa lalu ini bisa sedikit disembuhkan. “Dengan cerita kita bisa sedikit banyak berbagi, jadi bisa sedikit banyak juga mengurangi beratnya perasaan-perasaan itu. Jadi nggak ditanggung sendiri tapi dibagi-bagi,” lanjutnya.
Jedar juga mengakui bahwa apa yang dialami setiap korban tentu berbeda. Meski ia merasa pengalaman yang dialaminya tidak sekejam yang dialami Aurelie, trauma tetaplah trauma. Luka batin tidak bisa diukur atau dibandingkan, karena dampaknya sangat personal.
“Jadi ya dengan Aurelie berani speak up itu, aku jadi kayak, ‘Oh iya dulu aku pernah mengalami hal yang nggak sekejam yang dialami Aurelie tapi momen itu bikin aku trauma juga,’” ujarnya.
Lebih dari sekadar empati, Jedar melihat keberanian Aurelie sebagai bentuk solidaritas antarsesama perempuan. Ia menilai, di era sekarang, dukungan antarperempuan atau women support women menjadi semakin penting, terutama dalam menghadapi isu sensitif seperti kekerasan seksual dan pelecehan.
“Iya women support women ya. Karena zaman sekarang kan digital, terus kayak semuanya lebih cepat, lebih gampang, lebih fleksibel untuk diakses. Kita jadi gampang banyak tahu berita, lebih gampang dapat informasi,” tambahnya.
Menurut Jedar, perkembangan teknologi dan media sosial memiliki dua sisi. Di satu sisi, media digital bisa menjadi ruang aman bagi korban untuk bersuara, mencari dukungan, dan mendapatkan informasi. Namun di sisi lain, media sosial juga harus digunakan dengan bijak agar tidak memperparah trauma korban.
Jessica Iskandar berharap, dengan semakin terbukanya pola pikir masyarakat dan kemajuan teknologi, kasus-kasus yang merugikan perempuan, terutama anak-anak, bisa lebih cepat terungkap dan ditangani dengan serius. Ia percaya bahwa edukasi dan kesadaran publik adalah kunci utama untuk memutus rantai kekerasan seksual.
Ia juga menekankan pentingnya menggunakan media sosial secara positif dan bertanggung jawab. Bagi Jedar, media sosial bukan hanya tempat hiburan, tetapi juga sarana edukasi dan perubahan sosial jika digunakan dengan benar.
“Jadi ya mudah-mudahan selama kita mengaksesnya dengan positif dan menggunakan logika dan akal pikiran yang sehat, zaman sekarang sosial media bisa digunakan untuk membantu hidup kita jadi lebih pintar, lebih mudah,” tutupnya.
Keberanian Aurelie Moeremans dan keterbukaan Jessica Iskandar menjadi pengingat bahwa suara korban memiliki kekuatan besar. Dengan saling mendukung dan berani berbicara, diharapkan semakin banyak korban yang merasa tidak sendirian dan berani mencari keadilan serta pemulihan.