Habib Bahar bin Smith Habib Bahar bin Smith

Habib Bahar bin Smith Marah Lawakan Pandji Nistakan Agama: Orang Goblok!

Rileks.id – Sorotan sedang tertuju pada komika Pandji Pragiwaksono lewat materi komedinya bertajuk Mens Rea yang tayang di Netflix. Materi tersebut rupanya mengundang reaksi keras dari Habib Bahar bin Smith yang menilai bahwa pembahasan soal salat dalam konteks bercanda adalah hal yang tidak pantas.

Pernyataan Habib Bahar ini beredar luas setelah disampaikan dalam sebuah forum pengajian yang dihadiri banyak jemaah. Video ceramah tersebut kemudian diunggah ulang di kanal YouTube Pecinta Habaib pada Kamis, 15 Januari 2026. Dalam video itu, Bahar dengan nada tegas menyoroti isi komedi Pandji dan mengingatkan bahwa tidak semua topik layak dijadikan bahan lawakan.

Menurut Habib Bahar, seseorang yang tidak memiliki pemahaman mendalam tentang agama seharusnya tidak terlalu jauh berbicara mengenai hal-hal yang sifatnya ibadah. Ia menilai bahwa pembahasan salat dalam bentuk candaan berpotensi menyinggung perasaan umat Islam yang memandang ibadah tersebut sebagai sesuatu yang sakral.

“Berbicara tentang salat kemarin-kemarin ada komika si siapa namanya itu… Pandji ngomongin tentang salat, udah berkali-kali saya bilang orang goblok, orang tolol, orang bodoh jangan ngomongin agama, begini jadinya. Orang bodoh, orang goblok, orang tolol, orang ngurusin dunia, malah ngait-ngaitin,” kata Bahar dalam potongan video yang kini viral di media sosial.

Ia menambahkan bahwa dunia komedi tentu boleh berkembang dan menjadi ruang berekspresi. Namun menurutnya, kebebasan itu tetap perlu memiliki batas, apalagi jika sudah bersentuhan dengan nilai-nilai ibadah. Bahar menekankan bahwa bercanda boleh saja, asal tidak menyerempet hal-hal yang dianggap suci oleh umat.

Habib Bahar Kecam Pandji

“Kalau mau komedi, komedi aja. Nggak usah kau masuk-masukan salat. Nggak usah kau becanda-becandain masalah salat, salat bukan untuk bahan candaan, salat bukan untuk bahan mainan,” imbuh Bahar.

Lebih jauh, Habib Bahar mengingatkan bahwa salat merupakan perintah Tuhan yang seharusnya dijunjung tinggi. Dalam pandangannya, salat bukan sekadar rutinitas, melainkan simbol ketaatan seorang muslim kepada Tuhannya. Oleh karena itu, segala bentuk candaan yang dinilai merendahkan ibadah tersebut dianggap sebagai tindakan yang tidak bisa ditoleransi.

“Itu untuk dimuliakan, itu untuk diagungkan, bukan untuk dilecehkan, dihinakan. Biadab, kurang ajar, nggak boleh dibiarkan. Ini penistaan saudara-saudara,” ujar Bahar dengan nada emosional.

Pernyataan itu memperlihatkan betapa seriusnya Habib Bahar memandang persoalan ini. Ia khawatir jika satu kasus dianggap sepele, maka akan muncul kasus-kasus lain yang serupa. Dalam pandangannya, membiarkan dugaan penistaan agama sama saja dengan membuka pintu bagi orang-orang lain untuk melakukan hal yang sama.

Habib Bahar menilai bahwa umat Islam perlu bersuara ketika ibadah mereka dianggap diremehkan, apalagi jika hal tersebut dilakukan di ruang publik dengan jangkauan penonton yang luas seperti Netflix. Menurutnya, konten hiburan memang bisa dikemas dengan kreatif, tetapi tetap harus mempertimbangkan sensitivitas sosial dan keagamaan.

“Kalian kalau mau komedi-komedi aja, kalau mau ngelawak-ngelawak aja, kalau mau ngelucu-ngelucu aja, tapi jangan senggol-senggol agama, jangan bawa-bawa agama, jangan kau jadikan salat,” kata Bahar menegaskan.

Tak hanya berbicara secara umum, Bahar juga menyampaikan pesan langsung kepada Pandji Pragiwaksono. Ia meminta sang komika untuk menghentikan penggunaan salat sebagai bahan tertawaan dan mengingatkan bahwa hal tersebut dianggap sebagai bentuk penistaan.

“Hei Pandji, jangan kau jadikan salat sebagai bahan ejekan, bahan tertawaan. Nggak boleh. Ini penistaan, nggak boleh dibiarkan,” kata Bahar.

Respons keras ini pun langsung menjadi perbincangan hangat di berbagai platform media sosial. Sebagian netizen mendukung sikap Bahar dan menilai bahwa ibadah memang seharusnya dijaga kesakralannya. Namun, ada pula yang menilai bahwa komedi sering kali menggunakan sudut pandang personal dan satire untuk menyampaikan pesan, sehingga perlu dilihat konteksnya secara utuh.

Meski begitu, polemik ini memperlihatkan bahwa dunia hiburan Indonesia masih memiliki batas-batas sensitif yang perlu diperhatikan. Di tengah kebebasan berekspresi, isu agama tetap menjadi topik yang sangat rawan menimbulkan perdebatan. Kasus ini pun menjadi pengingat bagi para kreator konten agar lebih berhati-hati dalam memilih materi, terlebih jika menyangkut keyakinan banyak orang.

Dengan semakin luasnya jangkauan platform digital seperti Netflix, satu materi komedi bisa dengan cepat memicu diskusi nasional. Peristiwa ini menunjukkan bahwa antara komedi dan keyakinan, selalu ada garis tipis yang perlu dijaga agar tidak berubah menjadi polemik berkepanjangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *