Mengintip Desa Wisata Ciderum, Destinasi Ramah Lingkungan Berbasis Daur Ulang Sampah

Mengintip Desa Wisata Ciderum, Destinasi Ramah Lingkungan Berbasis Daur Ulang Sampah

Bogor: Di kaki perbukitan Kabupaten Bogor, Jawa Barat, berdiri sebuah desa wisata yang berkembang dengan cara berbeda. Desa Wisata Ciderum tidak lahir dari gemerlap pembangunan, melainkan dari kesadaran warga dalam mengelola sampah menjadi sumber nilai dan pembelajaran.

Desa ini menjadi bukti bahwa pariwisata berbasis lingkungan dapat tumbuh dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten dan gotong royong. Sampah yang selama ini dianggap masalah justru menjadi fondasi utama perubahan di Desa Wisata Ciderum.

Setiap pengunjung yang datang tidak hanya disambut panorama hijau dan udara sejuk khas Bogor, tetapi juga cerita tentang perjalanan warga membangun desa yang mandiri secara lingkungan dan ekonomi.

Ruang Edukasi Terbuka di Desa Wisata Ciderum

Desa Wisata Ciderum dirancang sebagai ruang belajar yang menyatu dengan alam. Di kawasan ini tersedia kafe bernuansa alam, gazebo untuk diskusi, aula serbaguna, mushola, hingga galeri kerajinan hasil daur ulang sampah.

Pengunjung dapat melihat langsung berbagai produk ramah lingkungan seperti pupuk organik, eco enzyme, dan aneka kerajinan dari limbah. Setiap sudut desa menjadi media edukasi tentang pentingnya keberlanjutan.

“Setiap lingkungan punya potensi. Dengan gotong royong, potensi itu bisa menjadi peluang besar,” tutur Kang Bento, pendiri Desa Wisata Ciderum, saat menjelaskan filosofi pengembangan desa.

Berawal dari Program Pilah Sampah Warga

Perjalanan Desa Wisata Ciderum tidak selalu mulus. Pada tahap awal, rendahnya kesadaran masyarakat dan keterbatasan dukungan menjadi tantangan utama.

Perubahan dimulai dari edukasi sederhana tentang memilah sampah. Sampah organik diolah menjadi kompos dan pakan maggot, sementara sampah nonorganik dipilah untuk diolah kembali.

Dari hanya lima ekor maggot, kini jumlahnya berkembang hingga puluhan dan menjadi bagian penting dari sistem pengelolaan limbah serta pakan ternak di desa ini.

Inovasi lain yang dikembangkan adalah pembuatan eco enzyme dari campuran pala, air, dan gula merah. Cairan ini dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga dan pertanian.

Bahkan puntung rokok yang biasanya mencemari lingkungan diolah menjadi pestisida nabati yang lebih ramah alam.

Batabu Eco Bridge, Inovasi Lingkungan Khas Ciderum

Salah satu terobosan Desa Wisata Ciderum adalah Batabu Eco Bridge, bata ramah lingkungan berbahan abu hasil pembakaran sampah. Produk ini menjadi simbol keberhasilan warga mengubah limbah menjadi peluang ekonomi.

Dengan luas wilayah sekitar 1.800 kilometer persegi, potensi alam dan kreativitas warga terus dikembangkan hingga akhirnya mendapat pengakuan resmi dari pemerintah daerah.

“Alhamdulillah, Desa Wisata Ciderum kini memiliki SK Bupati dan masuk dalam 10 desa wisata Kabupaten Bogor,” ujar Kang Bento dengan penuh kebanggaan.

Desa Wisata Ciderum Jadi Favorit Wisata Edukasi Bogor

Kini Desa Wisata Ciderum menjadi tujuan favorit wisata edukasi di Bogor. Pelajar, mahasiswa, hingga komunitas rutin datang untuk belajar tentang pengelolaan sampah, peternakan domba, pertanian, dan ketahanan pangan.

“Tempat ini lengkap. Alamnya ada, ilmunya dapat,” kata Pendi, salah satu pengunjung setelah mengikuti kegiatan edukasi.

Lebih dari sekadar tempat wisata, Desa Wisata Ciderum menghadirkan harapan baru tentang masa depan desa yang mandiri, kreatif, dan berkelanjutan. Dari sampah yang dipilah, tumbuh kesadaran. Dari kesadaran itu, lahir masa depan yang lebih hijau untuk Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *