Rileks.id – Legenda sekaligus Asisten pelatih Arema FC Kuncoro meninggal dunia setelah terkena serangan jantung. Kuncoro sempat kolaps setelah bermain sepakbola saat menghadiri perayaan satu abad Stadion Gajayana pada Minggu (18/1/2026).
Minggu sore (18/1/2026) seharusnya menjadi momen penuh nostalgia dan kebahagiaan bagi keluarga besar sepak bola Malang. Stadion Gajayana, ikon bersejarah Kota Malang, genap berusia 100 tahun. Ribuan pasang mata hadir untuk menyaksikan laga charity yang mempertemukan para legenda, reuni hangat yang jarang terjadi. Namun, tak ada yang menyangka, perayaan tersebut justru berubah menjadi hari penuh duka.
Legenda sekaligus asisten pelatih Arema FC tim, Kuncoro, mengembuskan napas terakhirnya setelah mengalami serangan jantung di tengah rangkaian acara peringatan satu abad Stadion Gajayana. Kepergian sosok yang akrab disapa Abah Kuncoro ini meninggalkan luka mendalam, tak hanya bagi keluarga besar Arema FC dan Aremania, tetapi juga bagi insan sepak bola Indonesia secara luas.
Kuncoro ikut ambil bagian dalam Laga Charity 100 Tahun Stadion Gajayana, sebuah pertandingan yang mempertemukan para legenda sepak bola Malang lintas generasi. Kuncoro dimainkan pada babak pertama dan tampil bersama nama-nama besar seperti Siswantoro, Hermawan, Doni Suherman, serta sejumlah legenda lainnya.
Meski usia tak lagi muda, sentuhan bola Kuncoro masih memancarkan ciri khas gaya Malangan yang dikenal lugas dan penuh determinasi. Setiap operan dan gerakannya disambut tepuk tangan penonton, seolah menjadi pengingat akan masa-masa kejayaan Arema di era Galatama. Tak sedikit Aremania yang larut dalam nostalgia, menyaksikan kembali idola mereka merumput di stadion kebanggaan.
Asisten Pelatih Arema FC Meninggal Usai Main Bola
Sayangnya, kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Usai menuntaskan babak pertama, Kuncoro beristirahat dan duduk di bangku cadangan. Awalnya tak ada tanda-tanda mencurigakan. Namun tak berselang lama, situasi berubah drastis. Sang asisten pelatih arema FC mendadak kolaps dan tak sadarkan diri di bench pemain. Kepanikan pun tak terhindarkan.
Melihat kondisi kritis tersebut, perangkat pertandingan langsung mengambil keputusan cepat untuk menghentikan laga. Tim medis dan kru di lapangan bergerak sigap memberikan pertolongan pertama, termasuk melakukan resusitasi jantung paru (RJP). Ribuan penonton yang memadati stadion terdiam, sebagian menundukkan kepala, sebagian lain mengangkat tangan memanjatkan doa untuk asisten pelatih Arema FC itu.
Dalam kondisi darurat, asisten pelatih Arema FC itu segera dilarikan ke Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Kota Malang menggunakan ambulans. Harapan masih menyala, meski suasana diliputi kecemasan. Namun, takdir berkata lain. Sang legenda dinyatakan meninggal dunia, meninggalkan duka yang mendalam di hati banyak orang.
General Manager Arema FC, Yusrinal Fitriandi, tak mampu menyembunyikan rasa kehilangan yang begitu besar. Dalam pernyataan resminya, ia menyampaikan keterkejutan dan kesedihan seluruh elemen klub.
“Kami semua sangat shock dan terpukul. Cak Kun memulai karier profesionalnya di Stadion Gajayana, tempat dia merajut mimpi masa mudanya dan hari ini, Allah memanggilnya pulang di stadion yang sama, tepat di momen 100 tahun stadion ini,” katanya.
Kepergian Kuncoro juga diumumkan secara resmi melalui akun Instagram Arema FC. Dalam unggahan tersebut, klub menyampaikan doa dan harapan terbaik untuk almarhum.
“Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa beliau, menerima seluruh amal ibadahnya, melapangkan kuburnya, serta menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran, keikhlasan, dan kekuatan,” demikian keterangan akun @aremafcofficial.
“Terima kasih atas dedikasi, ilmu, dan pengabdian yang telah Abah berikan untuk Arema dan sepak bola Indonesia. Doa kami selalu menyertai,” sambung akun Arema FC.
Kuncoro bukanlah sosok asing bagi Arema. Ia adalah bagian dari sejarah klub. Sebagai pemain, ia memperkuat Singo Edan pada periode 1991 hingga 1996. Puncaknya, pada tahun 1993, Kuncoro menjadi salah satu pemain yang mengantarkan Arema meraih gelar juara Galatama, prestasi yang hingga kini dikenang sebagai tonggak penting perjalanan klub.
Kepergian Abah Kuncoro di Stadion Gajayana seolah menjadi simbol ikatan emosional yang tak terpisahkan antara sang legenda, Arema FC, dan kota Malang. Di tempat ia memulai mimpi, di situ pula sang asisten pelatih Arema FC memberikan salam perpisahan terakhir, sebuah akhir yang menyayat, namun penuh makna.