Rileks.id – Aurelie Moeremans membeberkan pengalaman masa lalunya lewat buku Broken Strings. Dalam buku yang dia bagikan secara gratis di media sosial itu, Aurelie Moeremans menceritakan kisah pahitnya semasa remaja, termasuk momen ketika mengaku dipaksa menikah.
Lewat buku tersebut, Aurelie membuka kisah tentang bagaimana dirinya pernah berada di hubungan yang tidak sehat, penuh kontrol, tekanan, hingga berujung pada pernikahan yang menurutnya dilakukan di bawah paksaan. Meski dibagikan tanpa dipungut biaya, isi Broken Strings justru terasa sangat mahal karena keberanian yang dibutuhkan untuk menuliskan semuanya.
“Namaku Aurelie, dan ini adalah kisahku. Ikuti aku kembali ke tempat dan waktu yang membentuk diriku, bahkan ke momen-momen yang dulu sempat ingin kulupakan,” tulis Aurelie Moeremans.
Kisah ini membawa pembaca mundur ke masa saat Aurelie masih berusia 15 tahun. Ia bercerita tentang pertemuannya dengan seorang pria berusia 29 tahun yang ia sebut dengan nama samaran Bobby. Pertemuan mereka terjadi di lokasi syuting iklan dan perlahan berkembang menjadi hubungan yang ternyata penuh manipulasi.
Dalam buku tersebut, Aurelie menggambarkan bagaimana Bobby mulai melakukan grooming secara halus. Mulai dari mengatur cara berpakaian, mengomentari penampilannya, sampai membatasi ruang geraknya untuk berkomunikasi dengan orang lain. Sedikit demi sedikit, Aurelie merasa dijauhkan dari dunia luar dan dibuat hanya bergantung pada satu sosok itu.
Aurelie Moeremans Dipaksa Menikah
Situasi semakin memburuk ketika Aurelie menginjak usia 18 tahun. Di salah satu bab berjudul Gereja di Waktu Fajar, ia mengisahkan momen paling kelam dalam hidupnya, yaitu saat dirinya dipaksa menandatangani berkas pernikahan di bawah ancaman.
Ancaman itu bukan main-main. Bobby disebut mengancam akan menyebarkan foto-foto pribadi Aurelie yang diambil secara paksa. Bahkan, ia juga mengancam keselamatan orang tua Aurelie. Pernikahan itu akhirnya dilakukan secara diam-diam saat subuh dengan saksi-saksi yang tidak ia kenal.
Dia juga pernah mengalami kekerasan seksual hingga kerap mendapat tindakan kekerasan dari Bobby. Di bagian penutup bukunya, Aurelie menuliskan refleksi yang sangat menyentuh.
“Ini kisahku, traumaku, tapi juga kesembuhanku,” ungkap Aurelie Moeremans dalam catatan penutupnya.
Meski tidak pernah menyebutkan nama asli Bobby, netizen dengan cepat menebak bahwa sosok tersebut adalah Roby Tremonti. Hal ini mengingat Aurelie dan Roby memang pernah menikah pada 2011 dan bercerai pada 2013. Namun dalam buku tersebut, Aurelie menyebut bahwa pernikahan itu sebenarnya tidak sah.
Aurelie Moeremans juga menceritakan peran besar sang ibu yang menjadi orang pertama menyadari ada yang tidak beres. Ibundanya kemudian mendatangi gereja hingga ke pihak keuskupan untuk memastikan keabsahan pernikahan tersebut. Dari sana terungkap bahwa ada satu prosedur penting yang tidak dipenuhi sehingga pernikahan mereka tidak diakui secara rohani.
Walau terdapat dokumen yang menyebutkan mereka sebagai pasangan suami istri, pihak Gereja menyatakan pernikahan itu tidak sah. Bahkan, Aurelie menerima surat resmi yang menyebut dirinya tidak pernah terikat secara rohani dengan siapa pun saat ia berusia 22 tahun.
Di sisi lain, Roby Tremonti membantah keras tudingan tersebut. Ia bersikeras bahwa mereka pernah menikah secara sah dan menuding buku Aurelie sebagai upaya untuk menjatuhkan reputasinya di dunia hiburan.
“Tujuan dari sumber tersebut memang jelas mau membuat kredibilitas saya hancur alias kena cancel culture bahasa modern-nya,” tulis Roby Tremonti sambil mengunggah dokumen pernikahan mereka.
“Saya tutup dengan ‘saya punya bukti yang bisa netizen lihat untuk membuktikan sumber tersebut (memoar Aurelie) adalah kebohongan’,” lanjut Roby.
Judul Broken Strings sendiri dipilih sebagai simbol pengalaman Aurelie yang merasa masa mudanya seperti direnggut. Namun di balik luka itu, buku ini juga menawarkan pesan tentang proses pemulihan dan kekuatan untuk bangkit dari trauma.
Karena mengandung kisah yang sangat personal, Aurelie juga menambahkan daftar poin sensitif di dalam bukunya. Ia menjelaskan secara detail berbagai cara Bobby mengontrol pikirannya, mulai dari membuatnya ragu pada diri sendiri, memutus hubungan dengan keluarga, sampai permainan psikologis yang membuatnya merasa tidak bisa hidup tanpa sosok tersebut.
Lewat Broken Strings, Aurelie Moeremans tidak hanya membagikan cerita pilu, tapi juga mengajak pembaca untuk lebih peka terhadap tanda-tanda hubungan yang tidak sehat. Buku ini pun menjadi ruang bagi dirinya untuk menyembuhkan luka lama sekaligus memberi kekuatan bagi mereka yang mungkin mengalami hal serupa.