Rileks.id – Artis Denada mendadak jadi perbincangan setelah seorang pria bernama Al Ressa Rizky Rosano buka suara soal masa kecilnya yang penuh teka-teki. Selama puluhan tahun, Ressa tumbuh dengan keyakinan bahwa Denada bukanlah ibunya, melainkan hanya kakak sepupu yang sesekali ia temui di acara keluarga.
Setiap kali bertemu, Ressa selalu memanggil Denada dengan sebutan “mbak”. Tak pernah terlintas di benaknya bahwa perempuan yang dikenal publik sebagai penyanyi nasional itu ternyata adalah ibu kandungnya sendiri. Fakta itu baru ia ketahui ketika sudah dewasa, dan pengakuan tersebut membuat perjalanan hidupnya yang sederhana terasa semakin getir.
Ressa mengaku bahwa pertemuannya dengan Denada selama ini tidak pernah intens. Mereka hanya sebatas saling menyapa, tanpa obrolan panjang. Tidak ada momen duduk berdua atau berbagi cerita seperti ibu dan anak pada umumnya.
“Pernah ketemu, beberapa kali. Saya memanggil Mbak Denada,” kata Ressa.
Sejak bayi, Ressa diasuh oleh adik dari Emilia Contessa yang merupakan ibu kandung Denada. Perempuan itulah yang selama ini ia panggil ibu. Di tangan tante Denad tersebut, Ressa tumbuh tanpa banyak bertanya tentang asal-usul dirinya.
Ia mengaku tak pernah kekurangan kasih sayang dari perempuan yang membesarkannya. Meski hidup dalam keterbatasan, ia merasa dipeluk oleh ketulusan. Itulah alasan mengapa ia selalu berusaha mengurangi beban kedua orang tua yang sudah lanjut usia itu.
Dalam perjalanannya menuju dewasa, Ressa sempat beberapa kali berkomunikasi dengan Denada sebagai adik. Ia bahkan pernah dijanjikan bisa melanjutkan pendidikan di Jakarta. Namun, keterbatasan ekonomi membuat mimpi itu hanya tinggal wacana.
Ressa akhirnya memilih kuliah di salah satu universitas swasta di Banyuwangi. Ia bertahan hingga semester empat, sebelum akhirnya menyerah karena tak sanggup lagi membayar biaya pendidikan.
“Ya kuliah di sini saja, karena saya gak mampu. Tapi baru semester 4 saya keluar karena gak bisa bayar,” ungkapnya.
Tak banyak kata yang keluar dari mulut Ressa. Ia cenderung irit bicara. Dalam hidupnya, ia mengaku juga kerap berpindah-pindah tempat tinggal.
Awalnya, ia tinggal bersama perempuan yang selama ini ia panggil ibu. Namun karena tak ingin membebani orang tua angkatnya itu, Ressa memutuskan pindah ke rumah induk Denada di kawasan Jalan Gajahmada, Banyuwangi. Di sana, ia tinggal di gudang belakang yang diubah menjadi kamar sederhana.
“Ya terakhir sampai sekarang saya tinggal di Gajahmada, di gudang belakang yang dijadikan kamar,” tegas Ressa.
Meski kisah hidupnya kini ramai diberitakan, Ressa menegaskan bahwa ia sebenarnya tak pernah berniat membuka cerita pribadinya ke publik. Ia hanya ingin konflik internal keluarga yang menurutnya dipicu kesalahpahaman bisa segera berakhir.
Ia mengaku ingin memperjuangkan haknya sebagai anak yang selama ini merasa diabaikan. Namun perjuangan itu, katanya, bukan demi dirinya semata, melainkan demi perempuan yang telah merawatnya sejak usianya belum genap satu bulan.
Tanggapan Denada
Di sisi lain, kuasa hukum Denada, Muhammad Ikbal, menilai bahwa langkah hukum yang ditempuh pihak Ressa melalui Pengadilan Negeri Banyuwangi tidak tepat sasaran. Menurutnya, gugatan tersebut seharusnya tidak diajukan ke Pengadilan Negeri, melainkan ke Pengadilan Agama.
“Kan terkait masalah penelantaran kan katanya di media itu. Kalau saya nanggapi itu salah jalur kalau di PN (Pengadilan Negeri). Kalau ngomong penelantaran kan ya pidana. Kalau masalah ngomong nafkah-nafkah anak karena Muslim ya harusnya di Pengadilan Agama,” kata Ikbal.
Ikbal juga mempertanyakan waktu pengajuan gugatan yang baru dilakukan ketika Ressa sudah berusia 24 tahun. Ia merasa ada banyak hal yang belum jelas, termasuk soal siapa sebenarnya yang merawat Ressa selama ini.
“Kenapa kok baru sekarang? Dan yang menggugat ini pun ya masih lingkup saudara. Dan nggak dijelaskan itu dirawat sama saudara atau gimana, terus keabsahan masalah anak ini gimana kan nggak disebutkan juga,” tegasnya.
Hingga saat ini, pihak Denada disebut masih menjalin komunikasi internal dan belum mengambil sikap final. Ikbal menambahkan bahwa pertemuan sebelumnya belum masuk tahap mediasi resmi.
“Belum ada mediasi, kemarin itu bukan mediasi. Mediasi nanti hari Kamis depan dan belum dipastikan Mbak Denada akan hadir,” pungkas Ikbal.
Kisah Ressa ini pun menyentuh banyak hati. Di balik gemerlap dunia hiburan, ternyata tersimpan cerita keluarga yang rumit dan penuh luka. Publik kini menunggu bagaimana kisah ini akan berlanjut, apakah akan menemukan titik damai atau justru membuka bab baru yang lebih pelik.