Rileks.id: Tahun baru sering kali identik dengan resolusi keuangan. Di tengah naiknya biaya hidup dan ketidakpastian ekonomi, banyak orang mulai melirik sumber penghasilan alternatif yang lebih fleksibel. Salah satu peluang yang kian mencuri perhatian adalah afiliasi eCommerce—bagian dari ekosistem creator economy yang terus tumbuh di Indonesia.
Laporan Google, Temasek, dan Bain (2025) mencatat bahwa konten kreator dan social commerce kini menjadi motor penting ekonomi digital Asia Tenggara. Di Indonesia sendiri, riset Populix (2024) menunjukkan 59 persen konsumen pernah melakukan transaksi lewat tautan afiliasi. Angka ini menegaskan bahwa aktivitas berbagi rekomendasi produk bukan lagi sekadar hobi, melainkan ladang cuan yang nyata.
Melihat potensi tersebut, Lazada memperkuat perannya melalui program Lazada Affiliate, yang membuka kesempatan bagi siapa saja, mulai dari kreator konten, ibu rumah tangga, mahasiswa, hingga profesional, untuk memonetisasi pengaruh digital mereka. Platform eCommerce ini bahkan menggelontorkan investasi tahunan hingga USD 100 juta untuk memperkuat ekosistem afiliator di Indonesia.
“Fokus kami adalah menciptakan sistem yang adil dan berkelanjutan bagi mitra affiliate, mulai dari struktur komisi yang lebih kompetitif, insentif berbasis performa, hingga fitur yang mempermudah optimasi penjualan,” ujar Amelia Tediarjo, Head of Business Growth & Operations Lazada Indonesia.
Empat Bulan, Rp100 Juta: Perjalanan Anita Ratnasari
Salah satu cerita sukses yang mencuri perhatian datang dari Anita Ratnasari. Lulusan manajemen ini berhasil meraih komisi Rp100 juta pertamanya hanya dalam waktu empat bulan sejak bergabung dengan Lazada Affiliate. Konsistensinya mengelola konten dan komunitas membawanya meraih penghargaan Mitra Lazada Affiliate Terbaik kategori Kecantikan 2024.
“Awalnya saya cuma ingin menyalurkan hobi dan membantu orang tua dengan penghasilan tambahan,” kata Anita. “Tapi setelah dijalani, ternyata peluangnya sangat besar. Yang penting konsisten dan jujur ke audiens.”
Menurut Anita, keberhasilan di dunia afiliasi bukan soal jumlah pengikut semata, melainkan bagaimana membangun kepercayaan dan kebiasaan belanja di komunitas sendiri.
Lima Strategi Afiliasi ala Anita Ratnasari
Bagi yang ingin menjadikan 2026 sebagai titik balik finansial, berikut lima strategi praktis yang dibagikan Anita:
- Bangun basis audiens milik sendiri
Anita mengembangkan komunitas melalui kanal Telegram “Racun Lazada Diskon Promo Murah” yang kini beranggotakan lebih dari 141 ribu orang, serta grup WhatsApp. Media sosial dimanfaatkan sebagai pintu masuk untuk menarik anggota baru. “Sekali konten viral, dampaknya langsung terasa ke trafik dan penjualan,” ujarnya. - Konsisten berburu promo
Ia menghabiskan banyak waktu untuk memantau Flash Sale dan penawaran terbatas. Tautan produk dibagikan secara intens ke komunitas. Strategi ini, menurut Anita, efektif memicu rasa takut kehabisan promo alias FOMO. - Gunakan kata-kata yang mendorong aksi cepat
Copywriting menjadi senjata utama. Anita kerap menekankan selisih harga normal dan harga promo untuk menonjolkan urgensi. “Kalimat sederhana seperti ‘buruan, harga normalnya jauh lebih mahal’ ternyata sangat ampuh,” katanya. - Tunjukkan bukti, bukan sekadar klaim
Untuk menjaga kepercayaan, Anita sering menjadi pembeli pertama dan membagikan bukti transaksi. “Kalau audiens lihat saya juga checkout, mereka lebih yakin untuk ikut beli,” jelasnya. - Edukasi audiens dengan tips belanja
Tak hanya membagikan link, Anita juga memberikan shopping hacks—mulai dari strategi memanfaatkan koin hingga cara mendapat diskon tambahan saat membeli lebih dari satu produk. “Nilai tambah ini yang bikin komunitas betah,” ujarnya.